TKW yang Disiksa di Malaysia Akhirnya Meninggal

Kompas.com - 27/10/2009, 14:15 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mautik Hani (36), TKW asal Surabaya yang bekerja di Malaysia, akhirnya meninggal pada Senin (26/10) pukul 11.00. Dia disiksa selama dua bulan oleh majikannya. Namun, sampai saat ini belum ada tindakan dari pemerintah.

"Muhaimin (Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi) hanya bilang akan memberi santunan. Namun, usaha untuk mencari keadilannya tidak," kata Muhammad Husni Thamrin, penasihat Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) dalam keterangan pers di kantornya, Jakarta, Selasa.

Menurut Husni, pihaknya akan mengirimkan lima pengacara Bendera ke Kuala Lumpur, Malaysia. Mereka akan berangkat besok pagi untuk memberikan bantuan advokasi atas kematian TKW asal Surabaya yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga itu.

"Namun, (kami) belum ada koordinasi dengan pemerintah. Sebenarnya ini adalah bentuk ketidakpercayaan kepada pemerintah," tutur Husni.

Ia mengatakan, dia menyesalkan lambannya sikap pemerintah dalam menyikapi berbagai kasus penyiksaan dan "pembunuhan" para TKI di luar negeri. "Mereka butuh perlindungan hak asasi dan tentunya hukum, terlebih karena merekalah pahlawan devisa," kata Husni Thamrin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau